Pemberantasan

Pencegahan & Pemberdayaan Masyarakat

Terkini










Kamis, 27 Februari 2020

Asistensi Penguatan Dalam Rangka Pembentukan Relawan

mataramkota.bnn.go.id - mataram,bertempat di Mandalika I Hotel Lombok Plaza, telah dilaksanakan Kegiatan Asistensi Penguatan Dalam Rangka Pembentukan Relawan Anti Narkoba.Acara ini dibuka oleh Kepala  BNN Kota Mataram Bpk. Ivanto Aritonang, ST sekaligus memberikan materi ttg Aspek Hukum UU No. 35 Tahun 2009 dan Kebijakan BNN dalam Program P4GN, serta Pencegahan Berbasis Ketahanan Keluarga kepada 30 orang peserta yg berasal dari unsur 20 Ketua Kampung KB di beberapa Kelurahan, Seluruh Kepala Lingkungan Selagalas & Koordinator Lingkungan Bersinar (Bersih Narkoba) Negara sakah Cakra Timur.Dilanjutkan oleh Kepala Seksi P2M BNN Kota Mataram Bpk. Amnan. SKM.S.Pd. MM. yg menyampaikan materi Pencegahan di Lingkungan Pendidikan, Pekerja dan Masyarakat (Ketahanan Keluarga).Pemateri ketiga, hadir Kepala Bakesbangpol Kota Mataram yg diwakili oleh Kepala Bidang Wasbang Bpk. Drs.Made Yasa yg menyampaikan materi terkait Pilar Ketahanan KeluargaSebagai pemateri terkahir, Kepala Seksi Rehabilitasi BNN Kota Mataram Bpk. Heri Sutowo.M.Kes. yg menyampaikan materi terkait Adiksi dan Rehabilitasi Berbasis Ketahanan Keluarga.Pada hari ke-2Materi pertama pada hari kedua ini disampaikan oleh Kepala Seksi P2M BNN Kota Mataram Bpk. Amnan SKM, SPd, MM tentang Teknik Presentasi dan Komunikasi yg Efektif sebanyak 4 Jam Pengajaran.Dilanjutkan dengan materi terkait Teknik Pemanfaatan Media Informasi Berbasis Ketahanan Keluarga oleh Kepala Seksi Rehabilitasi Bpk. Heri Sutowo,M.Kes sebanyak 2 Jam Pengajaran.Setelah jadwal ishoma selesai, para Relawan diwajibkan membuat RAN P4GN disesuaikan dengan tupoksi Organisasi masing² yg akan dipresentasikan setelah menerima materi.Materi terakhir disampaikan oleh Kepala BNN Kota Mataram Bpk. Ivanto Aritonang, S.T tentang RAN P4GN.Sekaligus menutup kegiatan Asistensi Penguatan Dalam Rangka Pembentukan Relawan Anti Narkoba.=================================#stopnarkoba#bersamakitabisa Email : bnnkkota.mataram@gmail.comIG :bnnk_mataramFB :Grup BNN Kota MataramTwiter : @bnnk_mtrWebsite : mataramkota.bnn.go.idYoutube : BNN Kota MataramTelpkantor : (0370) 6177834



Terkini


Sabtu, 7 Desember 2019

Oprasi Gabungan BNN Kota Mataram

Hari/Tgl : Sabtu, 07 Desember 2019 Waktu : 08.30 s.d 11.00 Wita Pelaksana kegiatan : SATPOL PP Kota Mataram ================================================================================= Oprasi gabungan SATPOL PP Kota Mataram melibatkan Polres Mataram, Kodim 1606 Lobar, BNN Kota Mataram dan BNNP NTB, OPGAB ini menyasar pada Café Remang-remang yang berada di wilayah Selagalas Kota Mataram, oprasi ini di mulai pada pukul 08.30 WITA diawali dengan apel kordinasi yang dilakukan dihalaman Kantor Walikota Mataram, dalam apel tersebut dibicarakan tentang teknis operasi yang akan dilakukan. Dalam oprasi kali ini ditujukan untuk menekan peredaran gelap narkoba yang berada di wilayah Kota Mataram, penertiban perijinan tempat hiburan, hal tersebut diungkapkan dalam apel kordinasi sebelum di berangkatkannya team ke tujuan operasi. Pada saat OPGAB tidak ditemukan adanya indikasi penyalahgunaan narkotika namun ditemukan puluhan miras tradisional illegal yg saat ini ditangani oleh satpol pp kota mataram. Guna menekan peredaran gelap narkoba dan Penertiban Perijinan tempat Hiburan perlu dilakukan operasi gabungan berikutnya, hal itu diungkapkan oleh Kepala Bidang Perijinan SATPOL PP Kota Mataram dalam apel penutupan setelah operasi, operasi berikutnya direncanakan akan dilakukan pada 11 Desember 2019. Kegiatan berjalan baik dan lancar, terimakasih ========================================== #stopnarkoba Email : bnnkkota.mataram@gmail.com IG : bnnk_mataram FB : Grup BNN Kota Mataram Twiter : @bnnk_mtr Website : mataramkota.bnn.go.id Youtube : BNN Kota Mataram Telp kantor : (0370) 6177834


Kamis, 5 Desember 2019

Press Release Kinerja BNN Kota Mataram TA.2019

Badan Narkotika Nasional Kota Mataram melaksanakan kegiatan Press Release Kinerja Tahun 2019 di Kantor BNN Kota Mataram. Kegiatan ini dipimpin oleh Kepala BNN Kota Mataram, Ivanto Aritonang, ST, di dampingi Kepala Subbag Umum, Nurul Achyani, ST, Kepala Seksi Rehabilitasi, Heri Sutowo, SKM,M.Kes dan Dokter Seksi Rehabilitasi, dr. Savitri Yuanita. Kepala BNN Kota Mataram memaparkan kinerja tahun 2019 bahwa BNN Kota Mataram sudah melakukan kegiatan mulai dari Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat hingga Rehabilitasi, yaitu kegiatan *Advokasi* sebanyak 21 kegiatan dengan audience 120 dan *Diseminasi Informasi* 20 kegiatan dengan audience 111.148, untuk *Pemberdayaan Masyarakat* baik rapat koordinasi, workshop, bimtek dan tes urine dengan total 19 kegiatan dan jumlah audience 811, untuk Kegiatan *Tes Uji Narkoba* pada kegiatan DIPA yaitu 14 instansi dengan jumlah peserta 626 (4 positif, 622 negatif), NON DIPA yaitu 2 instansi dengan jumlah peserta 140 (tidak ada terindikasi narkotika) dan OPGAB yaitu 16 instansi dengan jumlah peserta 140 (16 positif, 124 negatif), jumlah *Relawan* 40 orang dan *Penggiat* 41 orang.Selanjutnya layanan Rehabilitasi di Klinik Pratama BNN Kota Mataram (voluntary) 190 orang, Rujuk Rehabilitasi 19 orang, Klien Rehabilitasi Rawat Jalan 191 orang, jumlah penyalahgunaan yang mendapat *Layanan Pascarehabilitasi* 22 orang (rujuk pascarehabilitasi ke BNNP NTB), jumlah penyalahgunaan yang mengikuti kegiatan vokasional 8 orang (pelatihan service HP bekerjasama dengan Dinas Sosial Kota Mataram), Selain itu *Klinik Pratama BNN Kota Mataram* juga telah mengeluarkan 1036 Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkoba (SKHPN) atau Surat Keterangan yang dikeluarkan dari hasil pemeriksaan urine dan aktivitas kerja sama melalui penandatanganan MoU sejumlah 30 yaitu Instansi Pemerintah 21, Lingkungan Pendidikan 6 dan Kelompok Masyarakat / Swasta 3.Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar, terimakasih.


Sabtu, 7 Desember 2019

Oprasi Gabungan BNN Kota Mataram

Hari/Tgl : Sabtu, 07 Desember 2019 Waktu : 08.30 s.d 11.00 Wita Pelaksana kegiatan : SATPOL PP Kota Mataram ================================================================================= Oprasi gabungan SATPOL PP Kota Mataram melibatkan Polres Mataram, Kodim 1606 Lobar, BNN Kota Mataram dan BNNP NTB, OPGAB ini menyasar pada Café Remang-remang yang berada di wilayah Selagalas Kota Mataram, oprasi ini di mulai pada pukul 08.30 WITA diawali dengan apel kordinasi yang dilakukan dihalaman Kantor Walikota Mataram, dalam apel tersebut dibicarakan tentang teknis operasi yang akan dilakukan. Dalam oprasi kali ini ditujukan untuk menekan peredaran gelap narkoba yang berada di wilayah Kota Mataram, penertiban perijinan tempat hiburan, hal tersebut diungkapkan dalam apel kordinasi sebelum di berangkatkannya team ke tujuan operasi. Pada saat OPGAB tidak ditemukan adanya indikasi penyalahgunaan narkotika namun ditemukan puluhan miras tradisional illegal yg saat ini ditangani oleh satpol pp kota mataram. Guna menekan peredaran gelap narkoba dan Penertiban Perijinan tempat Hiburan perlu dilakukan operasi gabungan berikutnya, hal itu diungkapkan oleh Kepala Bidang Perijinan SATPOL PP Kota Mataram dalam apel penutupan setelah operasi, operasi berikutnya direncanakan akan dilakukan pada 11 Desember 2019. Kegiatan berjalan baik dan lancar, terimakasih ========================================== #stopnarkoba Email : bnnkkota.mataram@gmail.com IG : bnnk_mataram FB : Grup BNN Kota Mataram Twiter : @bnnk_mtr Website : mataramkota.bnn.go.id Youtube : BNN Kota Mataram Telp kantor : (0370) 6177834


Kamis, 5 Desember 2019

Press Release Kinerja BNN Kota Mataram TA.2019

Badan Narkotika Nasional Kota Mataram melaksanakan kegiatan Press Release Kinerja Tahun 2019 di Kantor BNN Kota Mataram. Kegiatan ini dipimpin oleh Kepala BNN Kota Mataram, Ivanto Aritonang, ST, di dampingi Kepala Subbag Umum, Nurul Achyani, ST, Kepala Seksi Rehabilitasi, Heri Sutowo, SKM,M.Kes dan Dokter Seksi Rehabilitasi, dr. Savitri Yuanita. Kepala BNN Kota Mataram memaparkan kinerja tahun 2019 bahwa BNN Kota Mataram sudah melakukan kegiatan mulai dari Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat hingga Rehabilitasi, yaitu kegiatan *Advokasi* sebanyak 21 kegiatan dengan audience 120 dan *Diseminasi Informasi* 20 kegiatan dengan audience 111.148, untuk *Pemberdayaan Masyarakat* baik rapat koordinasi, workshop, bimtek dan tes urine dengan total 19 kegiatan dan jumlah audience 811, untuk Kegiatan *Tes Uji Narkoba* pada kegiatan DIPA yaitu 14 instansi dengan jumlah peserta 626 (4 positif, 622 negatif), NON DIPA yaitu 2 instansi dengan jumlah peserta 140 (tidak ada terindikasi narkotika) dan OPGAB yaitu 16 instansi dengan jumlah peserta 140 (16 positif, 124 negatif), jumlah *Relawan* 40 orang dan *Penggiat* 41 orang.Selanjutnya layanan Rehabilitasi di Klinik Pratama BNN Kota Mataram (voluntary) 190 orang, Rujuk Rehabilitasi 19 orang, Klien Rehabilitasi Rawat Jalan 191 orang, jumlah penyalahgunaan yang mendapat *Layanan Pascarehabilitasi* 22 orang (rujuk pascarehabilitasi ke BNNP NTB), jumlah penyalahgunaan yang mengikuti kegiatan vokasional 8 orang (pelatihan service HP bekerjasama dengan Dinas Sosial Kota Mataram), Selain itu *Klinik Pratama BNN Kota Mataram* juga telah mengeluarkan 1036 Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkoba (SKHPN) atau Surat Keterangan yang dikeluarkan dari hasil pemeriksaan urine dan aktivitas kerja sama melalui penandatanganan MoU sejumlah 30 yaitu Instansi Pemerintah 21, Lingkungan Pendidikan 6 dan Kelompok Masyarakat / Swasta 3.Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar, terimakasih.


Kamis, 14 Mei 2020

COVID-19 DAN PENYALAHGUNAAN ZAT

mataramkota.bnn.go.id ,

COVID-19 DAN PENYALAHGUNAAN ZAT

dr. Savitri Yuanita

 Sebagaimana diketahui bahwa saat ini seluruh dunia telah dilanda pandemi global corona virus disease (Covid)-19 tidak terkecuali Indonesia. Hingga saat ini tercatat 15.438 kasus Covid di Indonesia, 11.123 orang masih dalam perawatan, 3.287 orang sembuh, dengan kasus meninggal 1.028 orang (Kemenkes RI). Di Nusa Tenggara Barat, tercatat 350 kasus, yang masih menjalani perawatan 193 orang, sembuh 150 orang, dan meninggal 7 orang. (corona.ntb.prov.go.id).Covid-19 merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan dan disebabkan oleh virus corona (SARS-Cov-2). Virus ini menular sangat cepat, sehingga pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk pencegahan penularan virus ini. Walaupun lebih banyak menyerang lansia, virus ini dapat menyerang siapapun, terutama mereka dengan sistem imun rendah, tidak terkecuai orang dengan penggunaan zat (NIDA,2020).Orang dengan penyalahgunaan zat, memiliki kondisi organ tubuh yang tidak sehat seperti orang normal dikarenakan oleh efek penggunaan zatnya. Sebagai contoh, pada penggunaan methamfetamin (shabu), berdasarkan penelitian diketahui salah satu efek penggunaannya adalah kerusakan pembuluh darah pada paru-paru serta penurunan daya tahan tubuh (sistem kekebalan tubuh),  Sehingga beresiko sangat tinggi terpapar oleh covid-19 dan apabila terpapar, maka resiko gejala perburukan gejala dapat terjadi (EMCDDA,2020).Virus corona menyebar dari orang ke orang, antara seseorang yang berdekatan dengan yang lain, serta melalui percikan cairan pernapasan orang yang terinfeksi, saat batuk atau bersin. Virus corona juga diketahui bertahan cukup lama pada beberapa permukaan. Oleh karen itu, penggunaan alat pakai zat secara bersamaan (sharing) tentunya dapat meningkatkan resiko tertular covid-19 dan berperan dalam peningkatan penyebaran virus corona pada penyalahgunaan zat.Disamping itu, pada pengguna zat, sering terjadi penyakit penyerta berupa gangguan pada psikis dan kejiwaan yang menyebabkan orang dengan penggunaan zat lebih sering menyendiri dan kurang dukungan karena stigma buruk yang dihadapi. Hal ini menyebabkan penyalahguna zat semakin sulit mengakses layanan kesehatan.Hal inilah yang mendorong BNN Kota Mataram tetap memberikan pelayanan rehabilitasi di tengah pandemi covid-19. Tentunya pelayanan yang diberikan tetap memperhatikan protocol pencegahan penyebaran covid-19. Selain layanan tatapmuka, saat ini BNN Kota Mataram juga menyediakan layanan telekonsultasi dengan dokter dan konselor, sehingga diharapkan dapat membuka akses kepada orang dengan penyalgunaan zat yang ingin mengakses layanan dan mendapat pendampingan untuk menjalani pemulihan. Referensi National Institute on Drug Abuse. April 2020. COVID-19: Potential Implications for Individuals with Substance Use Disorders available on
https://www.drugabuse.gov/about-nida/noras-blog/2020/04/covid-19-potential-implications-individuals-substance-use-disordersEuropean Monitoring Centre for Drug and Addiction. 2020. The implications of COVID-19 for people who use drugs (PWUD) and drug service providers. Available on https://www.emcdda.europa.eu/publications/topic-overviews/catalogue/covid-19-and-people-who-use-drugs 


Senin, 27 Januari 2020

BNN Kota Mataram melalui Seksi Rehabilitasi melakukan Layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat di Lingk. Karang Tatah, Kelurahan Monjok Timur

Narkoba menjadi ancaman nyata,  terbukti dengan banyaknya pengungkapan narkoba yang berhasil dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional maupun dari pihak kepolisian.Oleh sebab itu Badan Narkotika Nasional Kota Mataram dalam hal menanggulangi peredaran narkoba khususnya layanan rehabilitasi, melaksanakan program Layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat yang bertujuan untuk menekan penggunaan narkoba.Termasuk dari beberapa klien yang datang secara sukarela, ada permasalahan dimana dukungan keluarga masih kurang optimal, selain itu dari informasi yang ada, ada beberapa orang penyalahguna di daerah asal klien yang masih ragu untuk melakukan Upaya rehabilitasi. Berangkat dari hal tersebut BNN Kota Mataram melalui Seksi Rehabilitasi melakukan Layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat di Lingk. Karang Tatah, Kelurahan Monjok  Timur Mataram sebagai tempat pertama dilaksanakannya Layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat ini. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2020 malam, hal ini dilakukan karena kesibukan aktifitas warga yang cukup padat sehingga kegiatan menyesuaikan situasi dan kondisi masyarakat yang ada. Dalam kesempatan itu BNN Kota Mataram menyampaikan tentang beberapa hal terkait masalah upaya rehabilitasi, adiksi dan peran serta Keluarga dalam upaya pemulihan. Kegiatan berlangsung cukup interaktif banyak hal yang didiskusikan dalam kegiatan tersebut terkait masalah upaya pemulihan.


Selasa, 29 Oktober 2019

PELAKSANAAN INSTITUSI PENERIMA WAJIB LAPOR (IPWL) DI WILAYAH KOTA MATARAM

Seringkali menjadi pertanyaan di masyarakat, hal yang melatarbelakangi penyalahguna dan pecandu narkotika harus melakukan wajib lapor. Karena istilah wajib lapor sendiri identik dengan proses hukum. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang program wajib lapor serta membuka akses masyarakat Kota Mataram  terhadap layanan rehabilitasi yang diselenggarakan oleh institusi penerima wajib lapor (IPWL) dan non IPWL yang ada di wilayah Kota Mataram.Penyalahguna dan pecandu wajib untuk lapor diriSarasvita dan Raharjo (2014)  menyebutkan bahwa Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 pasal 54 mewajibkan para pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika untuk menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Pasal lainnya menyebutkan (pasal 55) mewajibkan mereka atau keluarganya untuk melaporkan diri kepada pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), rumah sakit atau lembaga rehabilitasi medis / sosial yang ditunjuk pemerintah guna mendapatkan perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Artinya, kewajiban lapor diri menurut Undang-Undang bukan sekedar lapor, melainkan agar pecandu menjalani perawatan melalui program rehabilitasi1.Fakta global menunjukkan bahwa jumlah pecandu yang menjalani terapi rehabilitasi sangatlah kecil. Menurut Data UNODC pada Tahun 2012, Pada negara-negara maju seperti Amerika Serikat, proporsi orang dengan gangguan penggunaan Napza yang menjalani perawatan sekitar 11 – 14%. Sementara pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak lebih dari 5%. American Society of Addiction Medicine (ASAM) menyebutkan bahwa adiksi adalah penyakit kronis primer pada sistem penguat di otak, motivasi, memori dan sirkuit-sirkuit terkait lainnya. Disfungsi pada sirkuit-sirkuit ini akan menyebabkan perubahan biologis, psikologis, sosial dan spiritual seseorang. Orang dengan gangguan penggunaan Napza dapat pulih dan berfungsi secara mental, psikologis dan sosial1.Namun demikian pemulihan ini perlu diupayakan terus menerus, selain menjalani terapi rehabilitasi, juga menerapkan teknik- teknik pencegahan kekambuhan. Jadi, program wajib lapor diharapkan dapat meningkatkan proporsi pecandu yang menjalani perawatan sehingga dapat meminimalisasi dampak buruk penggunaan Narkotika dan dapat meningkatkan pola hidup sehat pecandu dan korban penyalahgunaan Narkotika1.Untuk memudahkan fasilitas kesehatan dan  tenaga kesehatan dalam pelaksanaan wajib lapor disusun Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 37 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika dan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 293/Menkes/SK/VIII/2013 tentang Institusi Penerima Wajib Lapor. Dalam  peraturan ini dimuat tata cara pelaksanaan wajib lapor sekalipus penetapan 274 fasilitas kesehatan sebagai IPWL. Jumlah IPWL bertambah setiap tahunnya, seiring dengan kebutuhan dan kesiapan di lapangan1. Hingga tahun 2018, terdapat sekitar 754 IPWL yang telah ditetapkan oleh kemenkes2 dan 164 IPWL rehabilitasi sosial yang telah ditetapkan oleh Kemensos3.Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) di Kota MataramBerdasarkan Ketetapan Menteri Kesehatan Tahun 2018 tentang penetapan IPWL, terdapat sekitar 11 IPWL di wilayah NTB, khusus wilayah Kota Mataram terdapat 5 IPWL. Sedangkan IPWL Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial sejumlah 2 IPWL yang keduanya dalam wilayah Kota Mataram.IPWL Kemeterian Kesehatan :

  1. RSJ Mutiara Sukma (Rawat Inap dan Rawat Jalan)
  2. RS Bhayangkara Tk IV Mataram (rawat inap dan Rawat Jalan
  3. Poliklinik Biddokkes Polda NTB (rawat jalan)
  4. Klinik Pratama BNNP NTB (rawat jalan)
  5. Klinik Pratama BNN Kota Mataram (rawat jalan)
IPWL Rehabilitasi Sosial Kementrian Sosial :
  1. AKSI NTB (rawat inap dan rawat jalan)
  2. Yayasan Lentera (rawat inap dan rawat jalan)
Total Klien yang mengakses layanan rehabilitasi di IPWL yang berada wilayah Kota Mataram 573 orang  pada Tahun 2018 dan 353 orang Januari s.d. Juli Tahun 2019. RSJ Mutiara Sukma sebagai IPWL rehabilitasi rawat inap pertama di NTB memiliki daya tampung pasien untuk rehabilitasi  rawat inap rata-rata 75 orang/tahun dan rawat jalan 100 orang/tahun.  total klien yang berasal dari wilayah Kota Mataram yang akses layanan sejumlah 47 orang  pada tahun 2018 dan 41 orang pada januari  hingga juli 2019. Untuk layanan IPWL Rehabilitasi Rawat Jalan, Klinik Pratama BNN Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki daya tampung 100 orang/tahun. Sedangkan jumlah klien yang mengakses layanan sejumlah 262 pada tahun 2018 dan 120 orang pada Januari  hingga Juli 2019. Sedangkan di Klinik Pratama BNN Kota Mataram, daya tamping 100 orang/tahun, jumlah klien yang mengakses layanan sejumlah 165 orang  pada tahun 2018 dan  144 orang pada Januari  hingga Juli 2019. Pada Poliklinik Biddokkes Polda NTB tidak ada klien yang mengkases layanan rehabilitasi sejak Tahun 2015 namun diarahkan ke RS Bhayangkara Mataram.Di IPWL Rehabilitasi Sosial AKSI NTB, daya tampung untuk rawat inap adalah sekitar 45 0rang/tahun (1 program lamanya 4 bulan, dan daya tampung maksimal 15 orang), sedangkan jumlah klien yang mengakses layanan sejumlah 99 orang  (rawat inap 24 orang, rawat jalan 75 orang)  pada tahun 2018 dan  48 orang (rawat inap 8 orang, rawat jalan 40 orang)  pada Januari  hingga Juli 2019.Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa jumlah klien yang mengakses layanan rehabilitasi  di wilayah Kota Mataram  masih minim. Selain itu, Prevalensi jumlah penyalahguna di NTB (1,8% dari total penduduk NTB) tidak seimbang jumlahnya dengan jumlah IPWL dan data tampung IPWL yang ada. Beberapa alternatif penyelesaian yang dilakukan adalah melalui sosialisasi program rehabilitasi dalam penyuluhan, melalui media cetak dan elektronik, mengadakan pelatihan  peningkatan kemapuan SDM petugas rehabilitasi, dan lainnya. Diharapkan jumlah klien yang mengakses layanan  rehabilitasi akan semakin meningkat di tahun berikutnya agar dampak buruk dari penyalahgunaan narkotika dapat ditekan. Daftar PustakaSarasvita, R. Raharjo, B. 2014. Bulletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan : Gambaran Umum Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia. Program Wajib Lapor Pecandu Narkotika. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.Keputusan Menteri Kesehatan RI  Nomor HK.01.07/menkes/701/2018 tentang penetapan Institusi Penerima Wajib Lapor  dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pengampu dan Satelit Program Terapi Rumatan MetadonKeputusan  Menteri Sosial No. 43 Tahun 2018 tentang Penunjukan Lembaga Rehabilitasi Sosial sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza




Rabu, 28 Agustus 2019

EFEK PENGGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF TERHADAP TUBUH

EFEK PENGGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF TERHADAP TUBUHSaya Tahu, Saya Pahami, Saya berani Tolak NARKOBA! Zat psikoaktif adalah segala bentuk zat kimia yang memiliki efek spesifik terhadap susunan syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Sebagaimana diketahui bahwa syaraf pusat merupakan pusat kendali utama tubuh sehingga segala bentuk kerusakan yang terjadi dapat membawa dampak buruk terhadap tubuh secara keseluruhan. Ketergantungan/kecanduan/adiksi merupakan dampak dari penggunaan zat psikoaktif secara teratur dan merupakan gangguan otak yang sifatnya kronis dan kambuhan.Berdasarkan hasil survey Badan Narkotika Nasional dan Universitas Indonesia Tahun 2017, prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia sebanyak 3,8 juta sampai 4,1 juta orang. Narkoba yang paling banyak digunakan adalah ganja, baik pada pengguna coba pakai maupun pengguna teratur pakai. Narkoba lain yang juga popular adalah lem (inhalan), shabu, juga obat-obatan resep yang disalahgunakan2. Di Nusa Tenggara Barat, prevalensi jumlah penyalahguna narkotika mengalami peningkatan. pada tahun 2008 sebesar 1,39% (46.315 orang), pada tahun 2010 sebesar 1,22% (43,276 orang), tahun 2014 sebesar 1,5% (51,519 orang), tahun 2018 sebesar 1,8% (84.235 orang) dari total penduduk NTB. Zat yang paling banyak digunakan adalah shabu (amphetamine type stimulant /ATS). Untuk wilayah Kota Mataram, berdasarkan data Klinik Pratama Badan Narkotika Nasional Kota Mataram, sejak tahun 2015 hingga 2019, lebih dari 80% penyalahguna dan pecandu yang mengakses layanan rehabilitasi menggunakan shabu (amphetamine type stimulant /ATS).Merujuk pada klasifikasi UNODC, terdapat 7 kelompok besar zat psikoaktif yang umum disalahgunakan secara global, yakni :cannabis, opiat, amphetamine type stimulant (ATS), penenang (tranquilizer), halusinogen, inhalan, dan obat-obatan bebas yang disalahgunakan (over the counter drugs)1.  

  1. Cannabis (Ganja/mariyuana, hasish, tembakau gorilla, olahan ganja)
Ganja merupakan kumpulan daun, tangkai, buah kanabis sativa yang dikeringkan dan dirajang. Ganja dapat pula diolah dalam bentuk minyak hasish yang merupakan cairan pekat berwarna coklat. Zat psikoaktif dalam ganja yakni THC ( The delta -9-tetrahydrocannabinol)2.Efek jangka pendek : euphoria dan meningkatnya persepsi pancaindra, gangguan koordinasi dan keseimbangan, gangguan memori, gelisahEfek jangka panjang : gangguan jiwa, batuk kronis, infeksi saluran napas berulang.Pada remaja dapat menimbulkan penurunan IQ, pada Ibu hamil dapat menyebabkan resiko kelahiran prematur. Kombinasi kanabis dengan alcohol meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.Gejala putus zat : iritabel, gangguan tidur, gelisah3 
  1. Opiat
Opiat merupakan golongan obat penghilang nyeri yang bekerja pada susunan syaraf pusat. Termasuk didalamnya adalah heroin, opium, opiat sintetis seperti fentanil, petidin, buprenorfin, methadone, tramadol, kodein,dan lainnya. Penyalahgunaan opiat dapat menimbulkan efek sebagai berikut3.Efek jangka pendek : Euphoria, mulut kering, mual, muntah, hilangnya nyeri.Efek jangka panjang : penggunaan dengan jarum suntik menyebabkan kerusakan dan infeksi pembuluh darah dan jantung,meningkatkan resiko HIV dan hepatitis, sulit BAB dan  kram perut, gangguan liver dan ginjal, infeksi paru-paru.Pada Ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, berat bayi lahir rendah, sindrom abstinens neonatal (NAS). Kombinasi opiat dengan alcohol : koma hingga kematian.Gejala putus zat : nyeri otot dan tulang, gangguan tidur, diare, muntah, 
  1. Amphetamine Type Stimulant (ATS)
Merupakan golongan stimulansia turunan amphetamine yang menyebakan peningkatan kerja tubuh, dan sangat cepat menimbulkan ketergantungan (highly addictive drugs). Termasuk didalamnya shabu (Kristal meth, Yaba, SS, Tastus, Ubas), dexamphetamine (Dex, Adderall), ekstasi (Inex, XTC, Cece, Happy Five), katinon, narkoba cair, ekstasi, flakka, kratona1. Efek penggunaan stimulansia turunan amphetamine adalah sebaai berikut3.Efek jangka pendek : sulit tidur, aktifitas fisik meningkat, menurunkan nafsu makan, meningkatkan laju pernapasan, denyut jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh.Efek jangka panjang : gelisah, kebingungan, gangguan tidur (insomnia), gangguan mood, perilaku kekerasan, curiga berlebihan/paranoid, halusinasi, penurunan berat badan, kerusakan gigi (meth mouth), gatal-gatal.Pada ibu hamil dapat menyebabkan kelahiran premature, berat bayi lahir rendah, gangguan jantung dan otak. Penggunaan ATS dengan jarum suntik bergantian meningkatkan resiko HIV Hepatitis dan penyakit menular lainnya. Bila dikombinasi dengan alcohol meningkatkan resiko overdosis alcohol dan meningkatkan tekanan darah.Risk of HIV, hepatitis, and other infectious diseases from shared needles.Gejala putus zat : depresi, gelisah, lemas dan kelelahan. 
  1. Penenang (Transquilizer)
Merupakan golongan obat penenang yang diresepkan oleh dokter untuk menangani berbagai penyakit di antaranya gangguan tidur, gangguan cemas,  panik serta mengatasi kejang. Zat ini sering disalahgunakan karena dapat menyebabkan ketergantungan apabila digunakan secara berlebihan di luar alasan kesehatan/medis. Beberapa Contoh golongan penenang adalah fenobarbital, benzodiazepine (alprazolam xanax, diazepam/valdimex/valium, nitrazepam/dumolid,nipam, clonazepam/riclona, dan lainnya).Efek jangka pendek : rasa santai, mengantuk, lelah, lemas, euforia, pusing, bingung, bicara tak jelas/cadel, pandangan kabur/dobel, hilang ingatan sementaraEfek jangka panjang : Lemas, iritabel/sensitif, mual dan sakit kepala, gelisah, sulit tidur dan mimpi burukBila dikombinasi dengan alcohol menyebabkan hilang kesadaran hingga kematian.Gejala putus zat : nyeri kepala, nyeri otot, gelisah ekstrim, iritabel/sensitif, kelelahan, kesemutan pada telapak tangan dan kaki, halusinasi, kejang, hingga syok3
  1. Halusinogen
Merupakan zat psikoaktif yang bekerja terutama mengubah persepsi pancaindera. Termasuk dalam golongan halusinogen adalah LSD, kecubung, mushroom/jamur pada kotoran sapi/kerbau, dan lainnya1.Efek jangka pendek : Otot melilit, lemah, mati rasa, gemetar seluruh tubuh, pusing, mual, muntah, peningkatan detak jantung, pernafasan serta tekanan darah, “BAD TRIPS”Efek jangka panjang : Terjadi flash back, rasa yang tidak nyaman, kerusakan daya ingat dan kesulitan konsentrasi, gangguan kesehatan mental 
  1. Inhalan
Merupakan zat kimiawi yang mudah menguap dan memiliki efek psikoaktif. Inhalan terkandung dalam barang yang lazim digunakan dalam rumahtangga seperti lem, hairspray, bensin, tinner, dan gas pemantik. Zat ini sering digunakan oleh anak-anak karena mudah dan murah didapat serta cepat menimbulkan efek fly/high. Sayang sekali anak-anak sering tidak mengetahui resikonya2.Efek jangka pendek : Bingung, mual, bicara cadel/pelo, kurang keseimbangan, euphoria, pusing, kepala terasa ringan, halusinasi, nyeri kepala. Dapat menimbulkan kematian mendadak karena gagal jantung (menghirup gas butane, propane, dan zat aerosol lain) kematian karena sumbatan jalan nafas, pingsan, kejang, koma, dan tersedak.Efek jangka panjang : kerusakan ginjal, liver, dan sumsum tulang, kerusakan otak karena kurang suplai oksigen yang dapat menyebabkan gangguan berfikir, pergerakan, penglihatan dan pendengaranPada ibu hamil dapat menyebabkan berat bayi lahir rendah, kerusakan tulang, gangguan perilaku.Gejala putus zat :  mual, tremor, iritabel/sensitive, gangguan tidur dan perubahan mood3. 
  1. Obat-obatan bebas yang disalahgunakan (over the counter drugs)
Beberapa obat bebas seringkali dicampur dengan alcohol atau minuman bersoda untuk mendapat efek high/fly. Beberapa contoh obat-obatan tersebut adalah dextromethopan, obat yang mengandung komponen aktif dimendhidrinat (untuk mencegah dan meringankan gejala mabuk perjalanan), serta obat nyeri kepala yang diminum berlebihan hingga mabuk, penggunaan obat-obatan ini tentunya diluar alasan medis/kesehatan dan rentan menimbulkan ketergantungan1.Efek jangka pendek : mengantuk, hilang ingatan sementara, blackout, gelisah, relaksasi otot, gangguan koordinasi gerak, gangguan fungsi berfikir dan pengambilan keputusan, bicara cadel.Gejala putus zat : nyeri kepala, nyeri otot, gelisah ekstrim, iritabel/sensitif, kelelahan, kesemutan pada telapak tangan dan kaki, halusinasi, kejang, hingga syok Daftar Pustaka
  1. Pusat Penelitian, Data dan Informasi BNN. 2017. Executive Summary Survei Penyalahgunaan Narkoba Di Indonesia Tahun 2017. Jakarta
  2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 422/MENKES/SK/III/2010 tentang Pedoman Penatalaksanaan Medik Gangguan Penggunaan Napza
  3. National Institute on Drug Abuse. 2019. Commonly Abuse Drugs Charts. Available on https://www.drugabuse.gov/drugs-abuse/commonly-abused-drugs-charts#meth




Senin, 27 Januari 2020

BNN Kota Mataram melalui Seksi Rehabilitasi melakukan Layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat di Lingk. Karang Tatah, Kelurahan Monjok Timur

Narkoba menjadi ancaman nyata,  terbukti dengan banyaknya pengungkapan narkoba yang berhasil dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional maupun dari pihak kepolisian.Oleh sebab itu Badan Narkotika Nasional Kota Mataram dalam hal menanggulangi peredaran narkoba khususnya layanan rehabilitasi, melaksanakan program Layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat yang bertujuan untuk menekan penggunaan narkoba.Termasuk dari beberapa klien yang datang secara sukarela, ada permasalahan dimana dukungan keluarga masih kurang optimal, selain itu dari informasi yang ada, ada beberapa orang penyalahguna di daerah asal klien yang masih ragu untuk melakukan Upaya rehabilitasi. Berangkat dari hal tersebut BNN Kota Mataram melalui Seksi Rehabilitasi melakukan Layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat di Lingk. Karang Tatah, Kelurahan Monjok  Timur Mataram sebagai tempat pertama dilaksanakannya Layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat ini. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2020 malam, hal ini dilakukan karena kesibukan aktifitas warga yang cukup padat sehingga kegiatan menyesuaikan situasi dan kondisi masyarakat yang ada. Dalam kesempatan itu BNN Kota Mataram menyampaikan tentang beberapa hal terkait masalah upaya rehabilitasi, adiksi dan peran serta Keluarga dalam upaya pemulihan. Kegiatan berlangsung cukup interaktif banyak hal yang didiskusikan dalam kegiatan tersebut terkait masalah upaya pemulihan.



Suara Masyarakat


DATA STATISTIK BNNP NUSA TENGGARA BARAT

0

Total Kasus Narkoba

0

Total Tersangka Kasus Narkoba

0

Total Pasien Penyalahgunaan

0

Jumlah Penggiat Anti Narkoba

0

Jumlah Sebaran Informasi

Tautan Terkait